Mengapa Borobudur Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

Mengapa Borobudur Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

Mengapa Borobudur Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

Candi Borobudur telah berdiri selama lebih dari seribu tahun.

Bangunan besar yang berada di Jawa Tengah ini dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Artinya, Borobudur telah melewati pergantian zaman, hujan, panas, pertumbuhan tumbuhan, gempa bumi, dan berbagai perubahan lingkungan.

Pertanyaannya, bagaimana bangunan dari masa begitu lama dapat tetap bertahan hingga sekarang?

Jawabannya ternyata berkaitan dengan material, teknik pembangunan, bentuk bangunan, sistem pengelolaan air, serta usaha manusia untuk merawatnya.

Dibangun Menggunakan Batu Vulkanik

Borobudur dibangun menggunakan batu yang banyak tersedia di wilayah sekitar, terutama jenis batu vulkanik yang sering disebut batu andesit.

Batuan ini berasal dari aktivitas gunung berapi dan cukup kuat untuk digunakan sebagai bahan bangunan.

Para pembangun Borobudur pada masa itu harus mengumpulkan, memotong, membentuk, dan menyusun batu dalam jumlah yang sangat besar.

Hebatnya, semua itu dilakukan pada masa ketika belum ada mesin konstruksi modern seperti sekarang.

Batu-batunya Tidak Disatukan dengan Semen Modern

Salah satu hal menarik dari Borobudur adalah cara batu-batunya disusun.

Para pembangun menggunakan teknik sambungan dan penguncian antarbagian batu sehingga banyak batu dapat tersusun menjadi struktur yang stabil tanpa menggunakan semen modern seperti yang biasa digunakan pada bangunan masa kini.

Beberapa batu dibuat dengan bentuk tertentu agar dapat saling berkaitan.

Hal ini menunjukkan bahwa para pembangun Borobudur memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai bentuk, ukuran, beban, dan kestabilan bangunan.

Sistem Drainase Sangat Penting

Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi.

Bayangkan jika air hujan terus-menerus menggenangi bagian dalam bangunan selama ratusan tahun. Air dapat mempercepat kerusakan dan membuat struktur menjadi tidak stabil.

Karena itu, Borobudur memiliki sistem drainase atau pembuangan air.

Air hujan diarahkan agar dapat keluar dari bagian-bagian bangunan melalui saluran tertentu.

Salah satu bagian yang terkenal adalah pancuran air berbentuk makhluk mitologis yang disebut makara. Selain menjadi unsur hiasan, bagian dari sistem tersebut membantu mengalirkan air.

Pengelolaan air menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga bangunan sebesar Borobudur.

Bentuk Bangunannya Membantu Menjaga Kestabilan

Borobudur tersusun dalam beberapa tingkat.

Bagian bawahnya sangat luas, kemudian semakin ke atas ukurannya semakin mengecil hingga mencapai bagian puncak.

Bentuk bertingkat seperti ini membantu mendistribusikan beban bangunan.

Namun bukan berarti Borobudur tidak pernah mengalami kerusakan. Selama sejarahnya, bagian-bagian bangunan pernah mengalami masalah akibat air, pergeseran batu, kondisi tanah, tumbuhan, cuaca, dan berbagai faktor lainnya.

Karena itu, Borobudur yang kita lihat sekarang juga merupakan hasil dari berbagai usaha penyelamatan dan pemugaran.

Pernah Tertutup dan Terlupakan

Selama berabad-abad, Borobudur tidak selalu berada dalam kondisi seperti yang kita lihat sekarang.

Pada suatu masa, bangunan ini tertutup oleh tanah, abu, dan tumbuhan. Vegetasi tumbuh di sekitar dan di atas bagian-bagian candi.

Pada abad ke-19, Borobudur kembali mendapatkan perhatian luas. Sejak saat itu dilakukan berbagai kegiatan pembersihan, penelitian, dokumentasi, dan pemugaran.

Proses tersebut berlangsung dalam waktu yang panjang.

Borobudur Pernah Mengalami Pemugaran Besar

Salah satu pemugaran penting dilakukan pada awal abad ke-20 di bawah pimpinan Theodoor van Erp.

Kemudian pada abad ke-20 dilakukan pemugaran besar oleh pemerintah Indonesia dengan dukungan UNESCO dan berbagai pihak internasional.

Pemugaran tersebut tidak sekadar membersihkan candi.

Sebagian struktur harus diperiksa dan diperbaiki, batu-batu didokumentasikan, serta sistem pengelolaan air diperkuat agar bangunan dapat bertahan lebih lama.

Jadi, Borobudur dapat kita nikmati sekarang bukan hanya karena kehebatan pembangunnya pada masa lalu, tetapi juga karena usaha pelestarian yang dilakukan dari generasi ke generasi.

Relief yang Menjadi Cerita dari Masa Lalu

Borobudur bukan hanya bangunan besar.

Dindingnya memiliki banyak panel relief yang menggambarkan berbagai cerita, ajaran, manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, hingga kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Relief tersebut menjadi sumber penting bagi para peneliti untuk mempelajari sejarah dan kebudayaan.

Karena itu, menjaga Borobudur berarti bukan hanya menjaga sebuah bangunan, tetapi juga menjaga rekaman pengetahuan dan kebudayaan manusia.

Warisan Dunia yang Harus Dijaga

Borobudur merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang dikenal di seluruh dunia dan tercatat sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Namun usia yang panjang juga membuatnya menghadapi berbagai ancaman.

Cuaca, air, pertumbuhan mikroorganisme, aktivitas manusia, bencana alam, dan perubahan lingkungan dapat memengaruhi kondisi batu dan bangunan.

Itulah sebabnya pelestarian Borobudur terus dilakukan.

Tahukah Kamu?

🪨 Borobudur dibangun menggunakan batu vulkanik dalam jumlah sangat besar.

💧 Sistem pembuangan air merupakan bagian penting dari rancangan bangunan.

🏗️ Batu-batunya menggunakan teknik penyusunan dan penguncian yang tidak bergantung pada semen modern.

🌏 Borobudur diakui sebagai salah satu Warisan Dunia UNESCO.

📜 Relief Borobudur dapat membantu kita mempelajari kehidupan dan kebudayaan masa lampau.

Borobudur menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara pada masa lalu memiliki kemampuan luar biasa dalam arsitektur, pengolahan batu, pengelolaan air, seni, dan perencanaan bangunan.

Ketika kita melihat Borobudur hari ini, sebenarnya kita sedang melihat hasil kerja manusia dari lebih dari seribu tahun lalu yang kemudian terus dijaga oleh banyak generasi.

Karena itu, Borobudur bukan hanya peninggalan masa lalu. Borobudur adalah warisan pengetahuan yang perlu kita jaga untuk masa depan.